Wisata Kuliner Ke sidoarjo jangan lupa lontong kupang

Ke sidoarjo jangan lupa lontong kupang

24 Februari 2017
Ke sidoarjo jangan lupa lontong kupang


Ada sebuah makanan khas yang lumayan langka di Jawa Timur. Disebut langka karena makanan khas bernama "lontong kupang" itu sepertinya hanya dijajakan di daerah asalnya, di Sidoarjo. Bahkan di daerah yang bertetangga dengannya, seperti Kota Surabaya dan Pasuruan, hanya sedikit pebisnis yang mau membuka usaha ini.

Bila Anda melintas dari Surabaya ke Sidoarjo, cobalah mampir di Bursa (lontong) Kupang. Oleh Pemkab setempat, penjaja makanan khas ini memang sudah dilokalisasi di Jalan Gedangan yang lokasinya di tengah antara Surabaya-Sidoarjo. Sekitar 35 stan lontong kupang berlomba menyajikan makanan khas itu di sini.

Meski menyebut nama Kupang, makanan ini tak ada kaitannya sama sekali dengan kota di daerah Nusa Tenggara Timur itu. Disebut kupang karena bahan dasar makanan ini memang didominasi binatang kupang yang dijaring para nelayan di pesisir pantai Sidoarjo.

Menurut salah seorang pemilik stan di Bursa Kupang, Pak Kamto, makanan ini memang lebih banyak digemari warga asli Sidoarjo. Banyak pengguna jalan raya yang singgah di lokasi yang sudah dikemas sedemikian rupa menjadi tempat peristirahatan bagi para pengguna jalan itu. "Tapi bagi lidah kebanyakan, lontong kupang memang dirasa aneh, makanya kami menyajikan menu makanan pilihan lain," ujarnya.

Cara penyajian lontong kupang tampaknya memang perlu lebih divariasi. Karena tiap porsi makanan ini hanya berujud tumpukan lontong yang ditimbuni setumpuk kupang dan ditemani sebuah lento (bulatan berisi campuran singkong parut, kacang tolo, kelapa parut, dan bumbu berupa bawang putih, ketumbar, garam, gula). Campuran itu masih belum disebut lontong kupang kalau belum disiram kuah kupang.

Secara kasat mata, kupang itu bentuknya mirip kerang, tetapi ukurannya sangat kecil (lembut, berdiameter sekitar 2-5 mm), dan berwarna pucat. Sedangkan bumbu lontong kupang berupa campuran gorengan bawang putih yang diiris tipis-tipis, cabe, dan petis. Campuran itu digerus dengan sendok di atas piring yang akan disajikan. Selanjutnya, campuran itu diencerkan dengan membubuhinya sedikit kuah kupang tersebut.

Penyajian porsi lontong kupang yang diwadahi piring sederhana itu memang sulit mengundang selera. Apalagi soal aroma. Karena makanan ini tak terlalu menyebar wewangian seperti layaknya sate bakar. Tapi setelah dicicipi, baru akan terasa manis dan pedasnya lontong kupang. Bagi yang suka, sepiring lontong kupang tentu masih dianggap kurang.

Salah seorang penggemar lontong kupang yang warga Bukit Bambe Gresik, Budi Irawanto (42), misalnya, mengaku tak puas bila kebetulan lewat di Sidoarjo tak makan lontong kupang. Ketika menyantap lontong kupang, alumni sebuah sekolah menengah di Sidoarjo itu serasa sedang mengenang kembali masa mudanya dulu. "Ini lebih mirip menu untuk bernostalgia," ujarnya saat ditemui ketika sedang bersantap di stan Pak Kamto.

Tak jelas benar, sejak kapan lontong kupang ini dijajakan. Tapi, menurut para pedagang di lokasi tersebut, sejak zaman dulu sajian lontong kupang memang seperti itu. Nyaris tak ada perubahan. Sebagai pendamping, menu itu paling cocok disandingkan dengan es degan. Kombinasi itu sengaja dibuat bukan tanpa alasan. Tingginya kandungan kolesterol yang ada di makanan berbahan dasar hewan laut ini diyakini bakal dilunturkan oleh segelas es kelapa muda yang sejak awal memang dikenal sebagai larutan penawar racun di tubuh.

Warga Sidoarjo memang tak bisa lepas dari kupang. Karena itulah mereka paling terpengaruh ketika terbetik kabar tentang isu pencemaran air laut. Para pejabat Pemkab Sidoarjo bahkan harus berjuang keras mengembalikan citra kupang yang ikut merosot. "Kini era itu sudah pulih, masyarakat sudah tak terbebani kekhawatiran yang berlebihan ketika hendak menyantap lontong kupang," kata Budi.

Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk sekadar menikmati lontong kupang. Oleh para pedagang di pusat perdagangan kupang tersebut, seporsi lontong kupang dipatok harga Rp 5.000. Kalau ditambah segelas es degan yang Rp 2.500, harganya relatif terjangkau bagi mereka yang hanya sekadar ingin mencicipi.

Makanya bila Anda sedang melintas dari Surabaya ke arah selatan (tidak lewat tol), tak ada salahnya mampir ke Bursa Kupang. Lokasinya yang berada di kanan jalan memang memaksa pengendara mobil harus memutar.

Tapi kawasan yang ditumbuhi pepohonan asri itu menjadikannya tempat yang strategis dan nyaman untuk melepas penat. (Andira)